Waktu memiliki kuasa atas segalanya —
ia memudarkan ingatan, menua wajah, dan menghapus jejak langkah manusia di atas bumi.
Namun ada sebagian jiwa yang tidak tunduk pada waktu,
karena mereka hidup bukan di garis sejarah, tapi di nadi kebenaran.
Salah satu di antara jiwa-jiwa itu adalah Zaenab binti Ali.
Di hari-hari setelah Karbala,
ketika debu tragedi mulai mereda dan kekuasaan kembali pada rutinitasnya,
suara Zainab terus bergema.
Ia tidak lagi di Kufah, tidak lagi di Damaskus,
tetapi suaranya menembus batas ruang dan waktu.
Setiap kali seseorang berdiri menentang kezaliman,
ada gema lembut di hatinya yang berkata:
“Jangan takut, karena Allah bersama orang yang sabar.”
Dan suara itu — entah dari mana datangnya —
selalu membawa harum bunga padang pasir.
Itulah keharuman Zaenab.
Sejarah sering menyanjung para pahlawan lelaki,
yang mengangkat pedang, menunggang kuda, dan menulis kemenangan dengan darah musuhnya.
Namun Zaenab menulis kemenangannya dengan air mata, sabar, dan keberanian untuk tidak membenci.
Ia tidak menghunus pedang, tapi kata-katanya lebih tajam dari baja.
Ia tidak berperang, tapi keteguhannya membuat kekaisaran runtuh dari dalam.
Ia tidak menaklukkan kota,
tapi ia menaklukkan waktu —
karena kisahnya hidup di setiap generasi yang mencari makna cinta sejati.
Dan di situlah rahasia kemenangan Zainab:
ia tidak mencari kejayaan, ia hanya mencari ridha.
Dan siapa pun yang mencari ridha,
akan selalu menang, meski dunia berkata kalah.
Zainab tidak pernah berpisah dari Karbala.
Ia adalah napas yang menjaga kisah itu tetap hidup.
Ia memastikan agar darah Husain tidak mengering sebelum menjadi kesadaran,
dan agar kesedihan tidak berhenti sebelum menjadi hikmah.
Bertahun-tahun setelah wafatnya,
nama Zainab tetap disebut dengan air mata dan cinta.
Setiap kali bulan Muharram tiba,
jutaan manusia menunduk, bukan karena takut, tapi karena rindu.
Rindu pada sabar yang tak memaki,
rindu pada cinta yang tidak menuntut balasan,
rindu pada jiwa yang melihat keindahan di tengah kehancuran.
#
Ada orang-orang yang hidup dari cinta,
ada yang hidup dari pengetahuan,
dan ada yang hidup karena keduanya bertemu dalam satu jiwa.
Itulah Zainab — ilmu dari ayahnya, cahaya dari ibunya, dan kasih dari kakeknya.
Ia memantulkan wajah Tuhan melalui sabar,
seperti cermin yang tetap bening meski retak oleh batu kehidupan.
Ia mengajarkan bahwa perempuan bukan hanya penjaga rumah,
tapi penjaga peradaban; bukan hanya penghibur hati,
tapi penguat ruh umat manusia.
Di tangannya, cinta menjadi kekuatan, bukan kelemahan.
Dan dalam air matanya, ada keberanian yang tidak dimiliki oleh pasukan mana pun di dunia.
Setiap zaman memiliki Karbala-nya,
setiap hati yang menolak kezaliman adalah bagian dari tanah itu.
Dan di setiap perjuangan, ada bayangan Zainab —
bunga yang mekar di tengah api,
perhiasan yang tak ternoda oleh dunia.
Zainab mengalahkan waktu bukan dengan kuasa, tapi dengan cinta.
Cinta kepada Allah, kepada kebenaran,
dan kepada manusia yang terus ia doakan meski telah melukainya.
Ia tidak pernah berhenti mencintai.
Dan mungkin itulah rahasia mengapa namanya tidak pernah padam.
⸻
“Aku tidak melihat apa pun kecuali keindahan.”
Kalimat itu bukan hanya kesaksian, tapi definisi baru dari iman.
Keindahan bukan pada apa yang tampak,
tapi pada cara jiwa memandang dengan mata Allah.
Zainab melihat keindahan bukan karena buta terhadap luka,
tapi karena di balik luka ia melihat kasih yang lebih besar dari penderitaan itu sendiri.
Dan kini, setiap kali namanya disebut,
setiap kali kisahnya dibacakan,
waktu berhenti sejenak —
seolah ia sendiri datang, duduk di antara kita,
mendengarkan dengan mata yang masih basah,
dan berkata lembut:
“Lanjutkan perjuangan dengan cinta, bukan dengan amarah.
Karena hanya cinta yang tak bisa dikalahkan oleh waktu.”
Zaenab binti Ali —
bunga yang harum di padang pasir,
perhiasan yang tak berkarat oleh usia,
dan perempuan yang mengalahkan waktu
dengan sabar, iman, dan cinta yang tak bertepi.
Saya yang rendah menuliskan kisah dan namamu yang agung duhai Zaenab. Saya persembahkan di hari kelahiranmu ini 5 Jumadilawwal๐๐๐

